Terimakasih, waktu…
Aku pernah terpuruk. Terpuruk amat dalam karena cinta, cinta yang telah ku Bangun begitu lama, cinta yang telah ku Bangun perlahan, aku yang merenovasi nya, tapi aku pula yang merobohkannya. Bodoh.. iya bodoh…
Kepingan-kepingan robohan itu berserakan, berantakan. Pernah ku coba merapikan, aku plester tapi… bongkahan itu kembali berserakan. Lalu ku coba lagi, ku coba perlahan tapi masih sama… masih sama dengan bongkahan yang lalu. Berserakan, berantakan.
Sedih, tangis, murung hanya itu yang menemani hari-hari ku. Hanya itu kekuatan ku untuk merapikan kembali bongkahan berserakan dan berantakan itu. Aku sendiri, aku sendirian merapikan bongkahan itu. Tak ada dia, kamu, engkau. Sepi, sendiri…
Sampai suatu waktu…
Aku berhasil merapikan bongkahan itu. Bongkahan yang kelam, yang berserakan, yang berantakan. Perlahan aku merapikannya, aku plester kuat-kuat agar tak roboh lagi. Kini, aku telah berdiri lagi. Berdiri lebih kokoh dari sebelumnya. Aku bisa tersenyum lagi. Senyumanku manis, lebih manis dari biasanya.
Terimakasih waktu, karna engkau telah membantuku. Walau dulu terasa amat sulit, terasa amat sakit, tapi aku percaya waktu. Waktu akan mengubah rasa itu menjadi rasa yang lain. Aku pun tak tau rasa itu rasa apa, sulit di definisikan oleh ku. Mungkin rasa nya manis, iya manis tak pahit seperti dulu.
Terimakasih waktu, karna engkau telah membuatku seperti ini. Kuat, tegar di hantam ombak jahat. Kuat, tegar melawan semua.
Karna waktu yang akan mengajari arti hidup ini. Waktu yang akan menjawab semua. Waktu yang akan membantu mu merapikan kepingan-kepingan hati yang berserakan.
Waktu, terimakasih ya….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar