Alarm berbunyi pukul 05.00 pagi, berbarengan dengan kokoan ayam jago bapakku. Aku buka mata, mematikan alarm yang merusak gendang telinga dan menengok kesamping. Kulihat suami ku sedang terlelap dalam lelahnya, mukanya yang teduh dan suara ngoroknya yang selalu membuat ku rindu. Tak lupa ku bersyukur karna hari ini aku masih diberikan umur untuk memperbaiki amalan ku. Bersyukur masih diberikan umur panjang untuk suami tercintaku, aku masih bisa melayaninya, aku masih bisa meminta ridhonya. Imam ku yang akan menuntunku ke Surga-Nya.
Aku seorang istri 'baru' yang masih banyak belajar. Baru ? Hahaha, iya kami baru menikah sekitar 4 bulan yang lalu. Ilmu per-istri-an ku masih sedikit. Tapi angan untuk menjadi istri sholehah menggebu begitu besar hingga menggema di otak ku. Bagimana tidak, mulai 4 bulan yang lalu ridho ku ada di suami. Pahala terbesar yang bisa aku dapatkan dengan mudah ada di suami ku. Pun dengan keinginan suami ku, berkumpul di Surga-Nya bersama ku dan anak-anak sholeh dan sholehah kami. Insya Allah.
Mudah bukan menuju Surga-Nya ? Mudah.....tapi...
Tapi, aku istri paruh waktu. Sejak pukul 06.30 - 17.30 waktu ku habiskan di kantor untuk membantu suamiku mencari nafkah. Lalu setelahnya baru aku menjadi istri. Tapi masih jauh untuk disebut seorang istri.
Aku jarang memasak untuk suamiku, walau aku sangat bisa. Kadang aku memasak untuk nya, walaupun hanya weekend. Baju-baju pun begitu, aku mengurusinya hanya jika ada waktu libur. Sama pula dengan gosokan yang menumpuk hingga membuat pinggang ku pegal. Bagaimana dengan urusan bersih-bersih, nyapu, ngepel ? Aku masih tinggal bersama ibu ku, terkadang aku tinggal dirumah mama mertuaku.
Hampir tiap pagi aku menangis, memikirkan keadaan suamiku. Kasian dia, padahal sudah ada ketentuan di agama ku, jika seorang suami lah yang mencari nafkah. Istri dirumah, menjaga kepercayaan suami, mendidik anak-anak. Sedangkan aku ? Aku sibuk dengan pekerjaan dikantor, sibuk membereskan pekerjaan dikantor yang selalu menumpuk. Dan digaji dengan beberapa rupiah saja.
Rupa nya aku lupa, dengan pekerjaan penting ku. Sebagai istri. Pekerjaan 24 jam selama 7 hari. Pekerjaan yang di ridhoi Allah. Pekerjaan dengan gaji terbesar. Iya...aku lupa...
Rupa nya pun aku lupa. Bahwa rezeki sudah ada yang mengatur. Rezeki keluarga kecilku sudah ada yang memikirkan, sudah pasti akan di cukupkan. Bukankah janji Allah tidak akan ingkar ?
Sudah terlintas dalam benakku saat aku dilamar oleh nya. Saat sarapan, aku yang menyiapkan makanan untuknya. Lalu aku menyiapkan bekal sehat untuk dibawa ke kantor. Lalu malam harinya, ketika sampai dirumah aku yang dilihatnya. Teh tawar hangat kesukaannya yang aku sodorkan untuknya. Bukan seperti ini, setiap pagi bingung bertanya makan apa. Siang, laporan bosan dengan makanan yang itu-itu saja. Dan ketika malam menahan lapar karna sudah tak berselera.
Maafkan aku mama mertua, aku belum memenuhi janji untuk menjaga putra kecintaanmu. Tapi aku berjanji, aku akan selalu berusaha menjadi istri satu waktu seperti pintanya.
Sebaiknya aku sudahi saja tulisan ini. Tak sanggup aku meneruskannya. Terisak aku memikirkan betapa payahnya aku menjadi istri paruh waktu nya.
Bersabarlah cintaku, sebentar lagi aku akan menjadi istri satu waktu untukmu. Menjadi istri sholehah yang pantas kau ucapkan untukku.