Kamis, 14 Juli 2016

Romantis, menurut aku atau kamu ?

Waktu itu hari terakhir kita puasa ramadhan. Di hari terakhir itu sedari pagi aku sibuk di dapur, apalagi kalau bukan aktivitas memasak. Sudah 4 hari berturut-turut ini aku menghabiskan libur lebaranku di dapur. Hari pertama aku libur, sehabis sahur aku sudah sibuk meracik bahan untuk membuat kue nastar. Lalu hari kedua aku hampir berdiri full 5 jam membuat kue sagu keju. Hari ketiga, setengah hari ku habis kan untuk membuat kue bawang sebanyak 1 kg dengan muka celemotan penuh dengan bedak terigu. Dan di hari keempat, pagi buta aku sudah meracik bumbu rendang dan sambel goreng kentang yang memang sengaja aku buat sendiri.

Terasa letih jikalau di rasa. Tapi dengan ini aku senang. Aku mempunyai kepuasan sendiri, seperti sagu keju dan kue bawang yang aku buat sebanyak 1 kg sudah habis dalam waktu seminggu. Tapi bukan hal ini yang ingin aku ceritakan. 

Di hari terakhir berpuasa, saat itu aku sedang membuat bola-bola daging untuk campuran sambel goreng kentang ku. Bisa di bayangkan, muka ku setelah menggoreng 2 kg kentang. Lalu merebus bola-bola daging. Penuh dengan minyak, keringat, bau cabai, bawang, daging yang tak sedap, dan rambutku yang lepek. Hhhhhhh.

Dari dapur, terdengar suara remote mobil tanda mengunci pintu. Mungkin tetangga sebelah fikir ku. Tapi tak lama kemudian terdengan suara serak-serak khas yang selalu aku rindukan. Iya...selalu aku rindukan. Tapi aku masih menghiraukan dan tetap membuat bola-bola daging yang tak ujung usai.


"Assalamualaikum" salam dia
"Eh, walaikumsalam. Sini masuk" jawab ibu dan bapak ku
"Riska nya mana pak ?" Tanya dia
"Itu di dapur lagi masak, masuk aja" jawab bapakku

Ku tengok seseorang yang setiap menitnya menghasilkan rindu. Ku picingkan mata tanda benar bahwa yang datang dia, seseorang yang menguras isi fikiranku.

"kok ke rumah gak bilang-bilang ?" tanyaku sambil mencubit perut buncitnya
"emang aku harus bilang kalo mau pulang ?" jawab dia seadanya sambil mengelus-elus perutnya
"kamu tutup mata deh" pinta dia
"buat ? males ah, aku lagi masak"
"bentar ya" lalu dia pergi meninggalkan ku

Tak lama kemudian dia datang, membawa bingkisan untuk ku. Ku lihat dia tersenyum riang kala menunjukkan bingkisannya untukku. Manis nya lelaki ku.

"ini buat kamu, surprise gak ?"
"oh, kamu mau bikin surprise ?" lalu aku tertawa
"maaf ya, aku gak romantis aku aja gak tau ngelakuin hal romantis itu kayak gimana. Semoga kamu suka yaaa"

Aku terdiam penuh makna menatap dia, lalu kembali ku lanjutkan aktivitas memasakku tanpa menghiraukan dia. Tersenyum ku di buatnya.  

Hingga malam pun datang dan aku berbaring di kasur kesayangan. Menatap bingkisan yang mungkin tak terlupakan. Sayang.....romantis bukan hanya sekedar memberikan bingkisan. Kamu menganggap dirimu bukan pria romantis nyata nya kamu pria manis.

Dirimu memang bukanlah pria romantis, tapi kamu berusaha untuk itu ya...walaupun tak tau harus berprilaku seperti apa romantis itu. 

Kamu tau ? Saat kamu selalu mengingatkan aku tentang istri soleha, tentang kerudung yang menutup dada, membelikan buku fiqih wanita demi aku tidak masuk neraka, atau saat kamu mengirimkan video youtube ceramah Ust. DR. Syafiq Riza Basalah dan lain hal sebagainya. Adakah kata-kata melebihi kata romantis saat kamu melakukannya untukku wahai arjuna ?

Jangan lagi risau dengan kata-kata romantis. Jangan lagi bingung dengan aktivitas romantis. Kamu sudah melakukannya, dengan caramu sendiri tentunya. Dan aku melihat usaha mu, bukan bingkisan mu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar